Saksi Keluhkan : Pedihnya Korban Wamena Antara Hidup dan Mati - Puisi
Wednesday, October 2, 2019
Add Comment
![]() |
| www.cnnindonesia.com |
Wamena - Indonesia akankah bungkam melihat saudara senusantara kian mencengkam. 42 tahun terpaksa harus pura-pura mati di tengah kerusuhan di Wamena. Tanah Cendrawasih menjadi ibu pertiwi membagun Indonesia Raya yang merdeka. Ternodai dengan darah tak berdosa, larut dalam luka yang mendalam hingga kini mamena menangis mengadu ke ranah publik menjadi bapak ibu mereka. Tanpa Wamena tak akan jadi apapun, membangun nilai ekonomi, sosial, budaya bertahun – tahun tak semudah membalikkan telapak tangan. Sampai kapan wamena menangis diuji dengan tragis tak mampu bangkit, karena penompang tak sekuat baja. Mereka dihantui kecemasan setiap harinya, nyawa seakan diambang batas antara mati atau bertahan.
Suara itu masih mendengung keras, jelas terdengar samapai ketelinga mereka. Duarrr, genjatan peluru terlontar dari musuh yang dianggap rusuh, tak segan ia membunuh ibu pertiwi yang tak berdosa dengan tangan yang haram itu. Tepat menancap bilah pedang dan busur panah dihadapannya, tak ada lagi cahaya yang bersinar ditanah Wamena selain darah yang gelap dan pekat. Satu harapan masih menjadi rahasia ilahi bagi Wamena, gubuk kecil menjadi payung pelindung bagi warga Wamena yang tak berdosa, seraya tiarap bahkan terlentang dipojok pintu itu.
Tetap saja hati nurani mereka telah buta, gebrakan keras pintu membuat hancur dan menimpa disekitar mereka, “sehingga kami dilempari, ditembaki dengan panah dan kami semua sudah pasrah mati," ungkap anak tak berdosa itu. Tak segan para pecundang itu menggibaskan api untuk melahap mangsanya hingga tak berdaya bahkan tak bernyawa. Sungguh kejam, bukan dari bangsa indonesia pastinya.
Sumber : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191001210244-20-435866/cerita-warga-lolos-dari-maut-dengan-pura-pura-mati-di-wamena


0 Response to "Saksi Keluhkan : Pedihnya Korban Wamena Antara Hidup dan Mati - Puisi"
Post a Comment